Studi Kasus
Memilih Media Pembelajaran Matematika Berdasarkan Observasi Kelas

A. Pendahuluan
     Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Jadi, apapun alat yang dapat membantu/mempermudah guru untuk menyampaikan suatu konsep kepada siswa itu bisa di sebut media pembelajaran, walaupun bisa berbentuk batu atau daun sekalipun. Apa lagi pada konsep-konsep pelajaran matematika yang kompleks dan cenderung abstrak lebih banyak simbol-simbol sehingga sangat sulit untuk memahaminya,maka sangat di butuhkan sebuah media pembelajaran yang dapat membantu/mempermudah memahami kosep-konsep tersebut.

B. Kajian Kasus
     Observasi penelitian dilakukan di salah satu SMA Swasta di Kota Jambi. Objek pengamatan saya adalah siswa-siswi kelas X dan seorang guru matematika. Materi yang disampaikan adalah persamaan kuadrat. Observasi dilakukan dengan cara merekam proses pembelajaran mulai dari memperhatikan kondisi kelas, siswa dan guru.

Setelah mengamati proses pembelajaran, permasalahan yang ditemukan yaitu:
-  Ketika proses pembelajaran berlangsung, guru menggunakan media infocus dengan menampilkan vidio. Selama vidio berlangsung siswa/i memperhatikannya dengan serius. Akan tetapi, vidio yang ditampilkan tidak ada hubungannya dengan materi yang akan dipelajari pada saat itu. Sehingga vidio yang ditampilkan tidak memenuhi landasan psikologis, karena kurang tepatnya dalam pemilihan media yang akhirnya akan berpengaruh pada hasil belajar siswa.
-  Ketika masuk pada materi pembelajaran, guru menjelaskan materi dan meminta siswa menggunakan media elektronik yaitu hanphone untuk mencari contoh lain diinternet. Siswa/i sangat antusias sekali menggunakan media tersebut. Akan tetapi penulis menemukan masalah, karena tidak semua siswa membawa handphone. Sehingga yang hanya bisa menggunakan media tersebut adalah siswa yang mempunyai handphone. Jadi penggunaan HP tidak memenuhi landasan teknologi, pemilihan media tersebut kurang memenuhi dalam hal memudahkan siswa untuk belajar.
-   Selama proses pembelajaran berlangsung, penulis melihat kurangnya interaksi yang aktif antara guru dan siswa. Siswa lebih banyak diam dan tidak ada yang bertanya kepada guru. Walaupun telah menggunakan media pembelajaran vidio dan handphone atau internet, siswa masih belum termotivasi untuk belajar dan memahami materi.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis memberikan saran bahwa dalam pemilihan media harus memperhatikan landasan media pembelajaran. Misalkan pemilihan vidio sesuai dengan materi yang diajarkan dan sesuai dengan keadaan siswa, agar membantu siswa dalam pemahaman materi dan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Menurut S Esa Kurnia (2012) Pemerolehan pengetahuan dan ketrampilan, perubahan - perubahan  sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Brunner dalam Media Pembelajaran mengatakan “ada 3 tingkatan utama modus belajar, yaitu : pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial / gambar (iconic), dan pengalaman abstrak  (symbolic).” Ketiga tingkatan pengalaman itu saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baru.


Berdasarkan saran penulis, bagaimana pendapat pembaca dalam menanggapi permasalahan yang terjadi pada kelas tersebut?
Silahkan berikan saran kalian dikolom komentar...
Terima kasih😊

Komentar

  1. Untuk menanggapi permasalah nomor dua menurut saya untuk permasalahan nomor dua cara guru meminta siswa untuk menggunakan handphone yaitu kurang tepat jika ada siswa yang menggunakan handpone dan ada yang tidak. Jika ini diterapkan takutnya akan terjadi kesenjangan sosial antara siswa satu dengan siswa yang lain. Apabila guru tersebut ingin sekali menerapkan cara ini maka menurut saya guru harus membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Siswa yang mempunyai handphone tadi dikelompokkan dengan siswa yang tidak mempunyai handphone. Jadi dengan berkelompok semua siswa bisa mencari tugas yang guru berikan. Dan dengan berkelompok siswa juga bisa membangun kerja sama yang baik ketika belajar.

    Dan untuk menanggapi permasalahan nomor tiga menurut saya penggunaan media bukan semata-mata bisa membuat siswa menjadi lebih aktif. Sebenarnya disinilah peran guru dituntut untuk membimbing siswa menjadi lebih aktif, dengan memanfaatkan media tadi guru mengajak siswa berproses, mengajak diskusi dan tanya jawab agar siswa bisa lebih berani dalam mengemukakan pendapatnya dan turut andil dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  2. Menanggapi masalah yg di dapatkan di atas, ada siswa yg tidak punya hp itu bisa di atasi dengan bekerja kelompok nah kembali lagi disini model pembelajaran konvensional tidak lagi cocok untuk zaman sekarang, kita harus menerapkan model pembelajaran postmodern dimana kita bebas mencampur adukkan model yg ada sesuai keadaan di kelas

    BalasHapus

Posting Komentar