Prinsip-Prinsip Dasar Multimedia Pembelajaran
Peran pendidik adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan
memotivasi siswa agar
mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada.
Bukan hanya sumber belajar
yang berupa orang , melainkan juga sumber-sumber belajar yang lain. Bukan hanya sumber
belajar
yang sengaja dirancang untuk keperluan belajar, melainkan juga sumber belajar
yang telah tersedia. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar
bagi siswa kita.
Wujud interaksi antara
siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar
dengan mendengarkan ceramah dari guru
memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengarkan saja, patut diragukan efektifitasnya. Belajar
hanya akan efektif jika siswa diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui
multi-metode dan multi-media. Melalui berbagai metode dan media
pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif
dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki siswa.
Barangkali perlu direnungkan kembali ungkapan populer yang mengatakan : Saya mendengar saya lupa,
Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa.
A. Pemilihan Media
Dalam kegiatan
pembelajaran kita harus menentukan media yang akan digunakan, memilih media
yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah. Pemilihan
itu rumit dan sulit, karena harus mempertimbangkan berbagai faktor.
1. Model pemilihan media
Anderson (1976) mengemukakan adanya dua pendekatan/model dalam proses pemilihan media
pembelajaran, yaitu: model pemilihan tertutup dan model pemilihan terbuka.
Pemilihan tertutup terjadi
apabila alternatif media telah ditentukan "dari atas" (misalnya oleh
Dinas Pendidikan), sehingga mau tidak mau jenis
media itulah yang harus dipakai. Kalau toh kita memilih, maka yang kita lakukan
lebih
banyak ke arah pemilihan topik/pokok bahasan mana yang cocok untuk dimediakan pada jenis
tertentu.Misalnya saja, telah ditetapkan bahwa media yang digunakan adalah media audio. Dalam
situasi demikian, bukanlah mempertanyakan mengapa media audio yang digunakan.
Model pemilihan terbuka merupakan kebalikan dari pemilihan tertutup. Artinya, kita masih bebas
memilih jenis mediaapa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita. Alternatif media
masih terbuka luas.
Proses pemilihan terbuka lebih luwes sifatnya karena benar-benar kita sesuaikan dengan kebutuhan
dan kondisi yang ada.
Namun proses pemilihan terbuka ini menuntut kemampuan dan keterampilan
pembelajaruntuk melakukan proses pemilihan. Seorang pembelajarkadang bisa
melakukan pemilihan media dengan mengkombinasikan antara pemilihan terbuka
dengan pemilihan tertutup.
2. Alasan pemilihan media
Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran.
Sebagai
komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses
pembelajaran secara menyeluruh. Akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan media tersebut
dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan
pebelajardapat berinteraksi dengan media yang
kita pilih.
Jika kita telah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan dalam pembelajaran,
selanjutnya sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di pasaran? Jika
sudah tersedia, maka
kita tinggal meminjam atau membelinya saja.
Itupun jika media yang ada memang sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang telah kita rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media
yang kita
butuhkan temyata belum tersedia, mau tak mau kita harus membuat
sendiri program media sesuai keperluan tersebut.
Pemilihan media
itu perlu kita lakukan agar
dapat menentukan media yang terbaik, tepat dan
sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu, pemilihan jenis
media harus dilakukan
dengan prosedur yang benar, karena begitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan
kelemahan masing-masing.
B. Prinsip
Pengembangan Multimedia Pembelajaran
Beberapa prinsip
yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi: prinsip
kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan,
partisipasi aktif peserta didik, dan umpan balik.
Prinsip kesiapan
dan motivasi menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik untuk
menerima informasi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses
belajar mengajar. Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan
prasyarat, kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan
untuk melakukan atau mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat
berasal dari dalam diri maupun dari luar diri peserta didik.
C. Prinsip-Prinsip
Multimedia untuk Pembelajaran
Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita
memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Menurut Mayer ada 12 prinsip desain
multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran, yaitu :
1) Prinsip
Multimedia
Orang belajar
lebih baik dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Yang
dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna
atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset.
Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram,
grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. Clark &
Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala
penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.
Karena dinamakan multimedia
berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar, grafik,
audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang
harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media.
2) Prinsip
Kesinambungan Spasial
Orang belajar lebih
baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan
apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada
gambar yang dilengkapi dengan teks, maka
teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut, jangan
menjadi sesuatu yang terpisah.
3) Prinsip
Kesinambungan Waktu
Orang belajar lebih
baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan
apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin
memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks,
misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan
satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain.
Begitu kata Mayer.
4) Prinsip
Koherensi
Orang belajar lebih jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia. Nah, ini
yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang
tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana
atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari.
Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan
macam-macam.
Prinsip koherensi
terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar
menarik namun tidak relevan ditambahkan (, pembelajaran siswa terganggu jika
suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan dan pembelajaran siswa
akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi
multimedia
Mayer mengemukakan
alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber
kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari
materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi
dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak
sesuai.
5) Prinsip
Modalitas Belajar
Orang belajar lebih
baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks
pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada
narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6) Prinsip
Redudansi
Orang belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari
gambar, narasi, dan teks tercetak di layar. Implikasi dari hal ini adalah saran
dari Clark & Mayer (2011) untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke
gambar yang sedang dinarasikan.
Clark & Mayer mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih
memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat
mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar
yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak
dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah,
untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak
di layar.
7) Prinsip
Personalisasi
Orang belajar lebih
baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational)
daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik menggunakan
kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis, oleh karena itu,
sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
Clark & Mayer
menyatakan bahwa riset dalam proses diskursus menunjukkan bahwa manusia bekerja
lebih keras untuk memahami materi saat mereka merasa berada dalam percakapan
dengan seorang teman, daripada sekadar menerima informasi. Mengekspresikan
informasi dalam gaya percakapan dapat merupakan cara untuk mempersiapkan proses
kognitif siswa. Clark & Mayer menambahkan pula bahwa instruksi yang
mengandung petunjuk sosial seperti gaya percakapan mengaktifkan perasaan
kehadiran sosial, yaitu perasaan sedang dalam percakapan dengan pengarang. Perasaan
kehadiran sosial ini mengakibatkan pembelajar terlibat dalam proses kognitif
yang lebih dalam selama belajar dengan berusaha lebih keras memahami apa yang
pengarang ucapkan, yang hasilnya adalah hasil belajar yang lebih baik.
8) Prinsip
Interaktivitas
Orang belajar lebih
baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya
(manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak
selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat
dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus
memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu
sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan
sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang
konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan
tingkat interaktivitas makin tinggi.
9) Prinsip Sinyal
(cue, highlight, ..)
Orang belajar lebih
baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan
terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan
lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of
interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting
sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10) Prinsip Perbedaan
Individu
9 prinsip tersebut
berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang
berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual
berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang
berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi
berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang
berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11) Prinsip
Praktek
Interaksi adalah hal
terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan
cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang
dipelajari.
12) Pengandaian
Menjelaskan materi
dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan
narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Kesimpulannya penggunaan multimedia (kombinasi antara teks,
gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif untuk
mengakomodir perbedaan modalitas belajar.
Dari 12 prinsip multimedia pembelajaran diatas, saya menemukan kesulitan dalam penerapan beberapa prinsip, yaitu apa perbedaan yang mendasar antara prinsip kesinambungan spasial, prinsip kesinambungan waktu, prinsip modalitas belajar, prinsip redudansi, karena dari keempat prinsip tersebut sama-sama menjelaskan ketika menampilkan gambar/animasi, sebaiknya teksnya terpisah atau dinarasikan.
Mohon bantuannya y bagi para pembaca ...
Mohon bantuannya y bagi para pembaca ...
Sumber:
Falahudin, Iwan.2014. Jurnal Pemanfaatan Media dalam
Pembelajaran, Edisi 1 No. 4.Jakarta: Widyaswara Network Journal
Wiratmojo,P dan Sasonohardjo, 2002. Media Pembelajaran Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan
Berjenjang Tingkat Pertama, Lembaga Administrasi Negara
https://wirawax.wordpress.com/2014/08/14/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusJadi beda ke4 prinsip tersebut adalah:
BalasHapus1. Pada prinsip kesinambungan spasial, ketika kita akan membuat suatu media yang ada gambar dan kita ingin menambahkan kata-kata, maka kita harus MENEMPATKAN gambar dan kata-kata itu berdekatan.
2. Pada prinsip kesinambungan waktu, ketika kita sudah membuat suatu media yang ada gambar dan kata, sebaiknya kita harus MENYAJIKAN gambar dan kata itu secara bersamaan dan tidak terpisah. karena akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain.
3. Pada prinsip modalitas: siswa bisa belajar lebih baik pada animasi dan narasi daripada animasi dan teks pada layar. Jadi kita gunakan audio untuk menjelaskan visual bukan teks di layar.
4. Pada prinsip redundansi: siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi, narasi, dan teks pada layar. Jadi kita cukup menjelaskan visual itu menggunakan audio atau narasi, dan tidak harus pakai teks di layar lagi. karena itu akan menambah beban untuk memproses banyak elemen informasi secara langsung.
sebagai contoh bisa mengunjungi link berikut http://www.et.iitb.ac.in/Resources/files/TL_ICT/multimedia_principles.pdf
BalasHapus(Kemampuan spasial = sederhananya adalah ilmu tentang bangun ruang).
BalasHapus(Narasi = sederhananya paragraf yg berisi cerita atau kejadian)
(Redudansi = kelebihan makna)
(Modalitas = cara menyerap informasi melalui indera yg dimiliki)
1. Pada prinsip kesinambungan spasial, ketika kita akan membuat suatu media yang ada gambar dan kita ingin menambahkan kata-kata, maka kita harus MENEMPATKAN gambar dan kata-kata itu berdekatan.
2. Pada prinsip kesinambungan waktu, ketika kita sudah membuat suatu media yang ada gambar dan kata, sebaiknya kita harus MENYAJIKAN gambar dan kata itu secara bersamaan dan tidak terpisah. karena akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain.
3. Pada prinsip modalitas: siswa bisa belajar lebih baik pada animasi dan narasi daripada animasi dan teks pada layar.
4. Pada prinsip redundansi: siswa bisa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks pada layar. Lebih jelasnya disini adalah jika sudah di terangkan oleh gambar dan narasi maka kita tidak perlu menggunakan teks.
.....
Jawabannya agak2 mirip dg mita namun ada perbedaan sedikit, dibaca dulu dan semoga bisa di pahami ^_^
Saya mencoba memaparkan pendapat saya
BalasHapus1. Pada prinsip kesinambungan spasia menempatkan gambar dan kata-kata itu berdekatan.
2. Pada prinsip kesinambungan waktu. Dari prinsip kesinambungan di atas sebaiknya harus menyajikan gambar dan kata secara bersamaan dan tidak terpisah.
3. Pada prinsip modalitas. siswa bisa belajar lebih baik pada animasi dan narasi daripada animasi dan teks pada layar. Jadi kita gunakan media dengan menjelaskan sembari bercerita tentang media tersebut.
4. Pada prinsip redundansi. Peserta didik bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi, narasi, dan teks pada layar. Cukup dengan menjelaskan visual itu menggunakan audio atau narasi, dan tidak harus pakai teks di layar lagi.
menanggapi pernyataan penulis, perbedaanya yaitu:
BalasHapus-prinsip kesinambungan spasial : pada saat kita mendesain (merancang) multimedia sebaiknya kata dan gambar terkait disandingkan (penempatannya) berdekatan
- prinsip kesinambungan waktu: pada saat kita mendesain (merancang) multimedia sebaiknya animasi dan teks dimunculkan (pada saat diputar) secara bersamaan
-prinsip modalitas belajar : sebaiknya siswa belajar dari animasi dan narasi (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata tercetak di layar
- prinsip redudansi : siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar . jadi kalau mislnya sudah ada gambar tidak perlu menambhkan teks di layar, sebaiknya digunakan narasi (kata yang terucap) saja karena jika keduanya digunakan (narasi dan teks) maka siswa akan membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.
Menurut pendapat saya, perbedaannya adalah :
BalasHapus1. Prinsip berkesinambungan spasial, orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Pada prinsip ini titik fokusnya adalah pada jarak antara kata dan gambar.
2. Prinsip berkesinambungan waktu, orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Prinsip ini titik fokusnya adalah pada waktu antara kata dan gambar.
3. Prinsip modalitas, Orang belajar lebih baik memakai animasi dan narasi termasuk video.
4. Prinsip redudansi, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.